google-site-verification=dWnVtB9sFVvOx3Xy2K6f1aUiGctW39aZpeHxLmCftBY SAYA LEBIH KEREN??? - Ihsannudin

Breaking

Sabtu, 06 Januari 2018

SAYA LEBIH KEREN???

Foto Ihsan Nudin.
Diriwayatkan bahwa dalam suatu dialog antara Musa dan Tuhannya, Musa memperoleh perintah dari Tuhan. Memang Musa ini adalah Utusan yang istimewa karena berkesempatan dapat berdialog langsung dengan Tuhannya selain Muhammad saat melakukan Mikroj. Musa diperintahkan untuk turun dari bukit Tursina dan membawa mahluk yang lebih hina daripadanya.
Maka turunlah Musa dan menemukan seorang pemabok yang “ngglasar” karena ngunjuk “ciu” (coro saiki). Betapa seseorang yang terhormat akan menjadi hina tak berharga saat “ndlosor” mendem ndak karuan. Gak bakalan eling, ndleming ora karuan. Kemudian Musa berpikir, “mungkin ini yang dimaksud Tuhan, sebagai mahluk yang hina”. Namun di akhir Musa mengurungkan niatnya, karena berpikir, Bila orang ini nantinya dapat hidayah Tuhan kemudian bertaubat, bisa jadi orang ini justru akan menjadi orang sangat mencintai dan taat pada Tuhannya.
Selanjutnya, musa bertemu dengan orang gila, “wong gendeng “ yang dekil, lusuh, bugil dan ndleming serta berjalan kesana kemari ndak tentu tujuan. Sudah tak peduli pada dirinya, sudah tak peduli dengan kehormatan dan aib yang perlu ditutupinya. Lagi-lagi Musa berpikir, “mungkin ini yang dimaksud Tuhan, sebagai mahluk yang hina”. Namun di akhir Musa mengurungkan niatnya, karena berpikir, Bila orang ini nantinya menjadi waras, kembali pada kesadaran dan normal pikirannya, maka dia tidak akan melakukan hal itu. Dan bisa jadi melakukan hal hal salih yang lebih terhormat, bermanfaat diantara mahluk lainnya. Lagi-lagi Musa mengurungkan niatnya.
Di tengah keputus-asaan mencari yang diperintahkan Tuhannya maka Musa sudah akan berniat kembali ke Bulit Tursina untuk menyatakan menyerah. Hingga kemudian Musa menemukan seekor anjing alias ASU alias segawon yang dekil, gudiken, kuotor dan gak kerumat. Wuelllek pokoe. Hingga ndak ada satupun yang mau dekat dengan sang ASU itu. Lagi-lagi dan lagi Musa berpikir, “mungkin ini yang dimaksud Tuhan, sebagai mahluk yang hina”. Namun di akhir Musa lagi-lagi dan lagi mengurungkan niatnya, karena berpikir, bahwa sanga ASU ini tidak pernah meminta menjadi ASU, tidak pernah meminta Gudiken, dekil, kotor dan “njelei”. Bisa jadi dengan “ke njelian-nya” justru asu ini tak putus bertasbih pada Tuhan.
Akhirnya Musa pun menyerah dan kembali ke Bukit Tursina untuk menyampaikan kegagagalan misinya pada Tuhan. “Tuhan .... saya gagal melaksanakan perintah-MU mencari mahluk yang lebih hina ketimbang saya”. Namun ternyata, kegagalan ini justru mendapat sanjungan dari Tuhan “karena sikapmu ini Musa.... menjadikan tidak salah Aku (Tuhan) memilih menjadi utusan-Ku". Karena kehinaan belum tentu hinggap pada “ndlosor”, belum tentu pada “gendeng” dan belum tentu pada “asu”.
Bisa jadi didalamnya atau di lain waktu dia adalah seorang yang sangat taat pada titah-Nya dan sangat hati-hati untuk selalu menjauhi larangan-Nya. Belum tentu yang berjas, berpeci, bersongkok, berjubah, bersorban, berkumis, berjenggot, bergamis atau beridentitas/ berkostum Mulia, lali menjadi lebih MULIA. Atau sebaliknya yang tidak berjas, tidak berpeci, tidak bersongkok, tidak berjubah, tidak bersorban, tidak berkumis, tidak berjenggot, tidak bergamis atau tidak beridentitas/ tidak berkostum mulia, lalu menjadi lebih HINA.
Biarkan TUHAN yang menilai, sedang kita cukup menilai yang BAIKNYA.
Wallahu ‘alam Bi showab

Menyadur dari pengaosanipun Gus Yusuf Tegalrejo Magelang, di tulis dari ruang pengungsian longkangan Pawon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar